Home > IMPORTER > PAST for FUTURE (28 October)

PAST for FUTURE (28 October)

Sebagian orang berpendapat bahwa membaca atau mempelajari sejarah adalah hal yang tidak begitu penting. Pendapat seperti itu diperkuat dengan alasan bahwa setiap orang patutnya berpandangan maju menuju masa depan. Hal itu tidaklah salah, namun kurang bijak rasanya saat menatap perjalaan hidup yang telah mewariskan nilai-nilai kearifan melalui masa lalu. Sebagai bukti, banyak penulis menuangkan karya tulisnya dalam sebuah buku yang mengabadikan kisah/cerita akan masa lalu. Tidak mengherankan pula kemudian banyak orang justru menjaga kelestarian tempat/bagunan, manuskrip, foto, serta dokumen, sebagai bentuk penghormatan akan masa lalu. Lebih tidak mengherankan lagi jika banyak dilakukan upacara/peringatan untuk mengenang peristiwa penting pada masa lalu. Tentunya untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari sana.

Seperti halnya tanggal 28 Oktober yang biasa diperingati bangsa Indonesia sebagai Hari Sumpah Pemuda, adalah peristiwa mengenai semangat kebersamaan pemuda Indonesia menyatukan diri dalam wadah keindonesiaan. Bayangkan saja negeri Indonesia ini dengan kondisi geografisnya sebagai kepulauan, dengan etnis serta kultur yang beragam, dengan agama yang berbeda, pasti membutuhkan suatu kesadaran tinggi untuk bisa menyatakan diri bersatu dalam keragaman dalam wadah keindonesiaan. Ini sangat luar biasa.
Pada masa sekarang, saat globalisasi justru cenderung ke arah westernisasi, saat kemajuan teknologi justru diterjemahkan dalam bentuk konsumerisme dan individualisme, saat keterbukaan informasi justru kadang melahirkan pribadi anak bangsa yang kehilangan jatidiri. Bahkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi sampai ke luar negeri, justru tidak sedikit cendekiawan bungkam melihat bangsa yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Begitu banyak anak bangsa yang well educated tapi less of sense, sense of belonging, sense of solidarity, sense of nationalism. Nah, disinilah kemudian pentingnya membaca, mempelajari serta ikut memperingati peristiwa penting bersejarah. Bukan bernostalgia dengan romantisme masa lalu, tetapi mengambil kembali nilai, semangat, serta kearifan sebagai pelajaran serta petunjuk melangkah ke masa depan. Masa depan yang lebih baik.

Sejarah sebagai masa lalu tidak bisa dipisahkan dalam perjalanan panjang ke masa depan. Bukankah perjalanan hari ini pun beberapa saat kemudian akan menjadi bagian dari masa lalu? Bagi setiap pribadi bangsa, tidak cukup cahaya di depan untuk bisa memandu arah langkah menuju masa depan. Bangsa ini juga membutuhkan limpahan cahaya dari belakang. Sebagai teladan, sebagai pengetahuan, dan sebagai kearifan.

Advertisement
Categories: IMPORTER
  1. Roni Pradana
    November 10, 2009 at 2:18 am | #1

    Ibarat Spion, sejarah adalah tempat kita sekedar melirik untuk forward terus ke depan. Dia menjadi begitu penting sehingga perlu membuatnya dengan jumlah beberapa. demikian pun sejarah. Melihat ke belakang untuk menentukan langkah ke depan adalah keniscayaan. Sumpah pemuda dipercaya adalah awal dari semangat untuk menisbikan fragmentasi takdir yang dibawa bangsa ini. Bukan menihilkannya, tapi memberdayakan untuk mencapai satu tujuan dan persamaan. Agama, bahasa, adat istiadat, daerah tak lagi menjadi hambatan selama cita-cita senantiasa dibisikkan sebelum diteriakkan, untuk kemudian diwujudkan.http://ronipradanaku.blogspot.com/2009/10/sumpahitu-memang-sumpah-pemuda-tulisan_29.html

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.